TEKNOLOGI – Amerika Serikat memperkenalkan sistem pertahanan baru berbasis gelombang mikro berdaya tinggi yang dirancang untuk menghadapi ancaman serangan drone dalam jumlah besar. Menurut laporan utama Interesting Engineering, teknologi tersebut dikembangkan oleh Epirus melalui sistem Leonidas, yang mampu melumpuhkan hingga 50 pesawat nirawak dalam satu misi tanpa menggunakan amunisi konvensional. Berbeda dengan rudal pencegat atau senjata kinetik, sistem ini memanfaatkan pulsa gelombang mikro untuk mengganggu dan merusak komponen elektronik drone, sehingga target dapat dinonaktifkan secara cepat dan efisien.
Sistem Leonidas bekerja dengan memancarkan energi elektromagnetik berdaya tinggi ke arah sasaran. Ketika pulsa tersebut mengenai drone, rangkaian elektronik di dalamnya mengalami gangguan hingga kehilangan kemampuan navigasi dan kendali. Menurut Interesting Engineering, pendekatan ini sangat efektif untuk menghadapi serangan drone swarm, yaitu taktik penggunaan puluhan bahkan ratusan drone secara bersamaan yang semakin banyak diterapkan dalam konflik modern. Karena tidak bergantung pada proyektil, sistem dapat digunakan berulang kali selama tersedia pasokan daya listrik, sehingga biaya operasionalnya jauh lebih rendah dibandingkan penggunaan rudal.
Keunggulan lain dari teknologi ini adalah kemampuannya melumpuhkan banyak target dalam waktu hampir bersamaan. Berbeda dengan sistem pertahanan tradisional yang biasanya harus mengunci satu sasaran setiap kali menembak, senjata gelombang mikro mampu mencakup area yang lebih luas sehingga beberapa drone dapat dinonaktifkan sekaligus. Selain itu, Leonidas dirancang dalam bentuk modular sehingga dapat dipasang pada kendaraan militer maupun digunakan untuk melindungi pangkalan, bandara, pelabuhan, serta berbagai fasilitas strategis dari ancaman drone berukuran kecil hingga menengah.
Menurut laporan Interesting Engineering, sistem ini juga bersifat reusable atau dapat digunakan berulang kali tanpa perlu mengganti amunisi setelah setiap operasi. Hal tersebut memberikan keuntungan besar bagi militer, terutama ketika menghadapi serangan drone dalam jumlah besar yang berpotensi menguras persediaan rudal pencegat. Dengan hanya mengandalkan sumber energi listrik, waktu persiapan antaroperasi menjadi jauh lebih singkat sehingga respons terhadap ancaman dapat dilakukan secara lebih cepat.
Dalam pernyataan resminya, Andy Lowery, CEO Epirus, mengatakan, “Leonidas gives operators a scalable, reusable solution to defeat drone swarms.” Pernyataan yang berarti, “Leonidas memberikan solusi yang dapat diperluas dan digunakan kembali untuk mengalahkan serangan drone berkelompok,” tersebut menegaskan bahwa teknologi gelombang mikro menjadi salah satu arah baru dalam sistem pertahanan modern. Keberhasilan pengembangan Leonidas menunjukkan bagaimana senjata energi terarah mulai memainkan peran penting dalam menghadapi ancaman drone yang terus berkembang, sekaligus menawarkan alternatif yang lebih efisien, cepat, dan ekonomis dibandingkan sistem pertahanan konvensional.

