Drone Phantom Twist Nyaris Tak Terlihat Berkat Efek Putaran

Jayak
By
3 Min Read
phantom twist drone

TEKNOLOGI – Tim peneliti dari Northwestern University, Amerika Serikat, mengembangkan sebuah drone eksperimental bernama Phantom Twist yang mampu tampak hampir tidak terlihat oleh mata manusia saat terbang. Menurut laporan utama New Atlas, teknologi ini tidak mengandalkan material transparan atau sistem kamuflase, melainkan memanfaatkan efek visual yang muncul ketika seluruh badan drone berputar sangat cepat. Pendekatan tersebut membuka kemungkinan baru bagi pengembangan drone yang dapat beroperasi dengan gangguan visual yang jauh lebih kecil, terutama untuk kebutuhan sipil seperti pemantauan satwa liar, inspeksi infrastruktur, dan penelitian lingkungan.

Berbeda dengan drone konvensional yang menggunakan empat baling-baling sementara badan pesawat tetap diam, Phantom Twist hanya memiliki satu baling-baling utama. Saat baling-baling berputar ke satu arah, seluruh badan drone berputar ke arah sebaliknya dengan kecepatan sekitar 25 putaran per detik. Menurut New Atlas, gerakan tersebut menciptakan efek motion blur yang membuat bentuk fisik drone sulit dikenali oleh mata manusia. Fenomena ini serupa dengan baling-baling kipas angin yang tampak menghilang ketika berputar sangat cepat.

Untuk menghasilkan desain yang optimal, para peneliti memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) dan simulasi komputer guna mengevaluasi sekitar 20.000 konfigurasi berbeda. Sistem kemudian memilih tata letak komponen seperti baterai, motor, papan sirkuit, dan pemberat yang mampu memberikan keseimbangan terbaik antara stabilitas terbang dan tingkat visibilitas yang rendah. Hasil akhirnya menunjukkan bahwa Phantom Twist sekitar 10 kali lebih sulit terlihat dibandingkan drone quadcopter biasa dalam berbagai kondisi pengujian.

Meski demikian, teknologi ini masih memiliki sejumlah keterbatasan. Drone tetap menghasilkan suara dengungan yang cukup jelas ketika terbang, sementara kabel dan beberapa komponen penyangga masih dapat terlihat dari jarak tertentu. Selain itu, desain satu baling-baling membuat kemampuan manuvernya belum sefleksibel drone quadcopter yang umum digunakan saat ini. Para peneliti menilai pengembangan lanjutan masih diperlukan agar sistem mampu membawa sensor tambahan tanpa mengurangi efek visual yang menjadi keunggulan utamanya.

Dalam penjelasannya, pemimpin penelitian Michael Rubenstein mengatakan, “Most efforts to hide drones focus on making them look like their surroundings. Instead, we asked whether we could design the drone itself around the way humans perceive motion.” Pernyataan tersebut berarti, “Sebagian besar upaya menyamarkan drone berfokus membuatnya menyerupai lingkungan sekitar. Sebaliknya, kami mencoba merancang drone berdasarkan cara manusia memersepsikan gerakan.” Ia menambahkan bahwa pendekatan berbasis persepsi visual ini masih jarang dieksplorasi, tetapi berpotensi membuka arah baru dalam pengembangan robot terbang yang lebih aman, tidak mengganggu lingkungan, dan mampu beroperasi secara lebih alami di sekitar manusia maupun satwa liar.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *