Netwriter can get reward Join NowDaftar / Login Netwriter
July 2, 2026
NEWSLIVE

Suhu Tembus 41 Derajat Celsius, 6 Negara Eropa Dilanda Panas Ekstrem

rifamahmudah
  • Juli 2, 2026
  • 2 min read
Suhu Tembus 41 Derajat Celsius, 6 Negara Eropa Dilanda Panas Ekstrem

NEWSLIVE – Gelombang panas ekstrem terus melanda kawasan Eropa. Sedikitnya enam negara mencatat suhu udara di atas 40 derajat Celsius, bahkan beberapa di antaranya memecahkan rekor tertinggi sepanjang sejarah. Kondisi tersebut memicu kebakaran hutan, gangguan transportasi, hingga meningkatnya risiko korban jiwa akibat cuaca panas ekstrem.

Enam negara yang mengalami suhu tertinggi tersebut adalah Jerman, Republik Ceko, Hungaria, Polandia, Spanyol, dan Prancis.Jerman menjadi salah satu negara dengan suhu tertinggi setelah termometer menunjukkan sekitar 41,7 derajat Celsius, rekor tertinggi yang pernah tercatat di negara itu.

Republik Ceko juga mencatat suhu hingga 41,9 derajat Celsius di wilayah Doksany, sekaligus memecahkan rekor nasional.Sementara itu, Hungaria mencatat suhu sekitar 40,7 derajat Celsius, disusul Polandia yang mencapai 40,5 derajat Celsius. Di Spanyol dan Prancis, suhu di sejumlah wilayah juga menembus angka 40 derajat Celsius sehingga pemerintah setempat mengeluarkan peringatan kesehatan kepada masyarakat.

Dampak gelombang panas tidak hanya dirasakan melalui suhu udara yang menyengat. Sejumlah wilayah di Eropa mengalami kebakaran hutan, lonjakan pasien akibat sengatan panas, hingga gangguan transportasi karena infrastruktur tidak mampu menahan suhu yang sangat tinggi.

Di Spanyol, otoritas kesehatan melaporkan lebih dari seribu kematian berlebih selama Juni 2026 yang diduga berkaitan dengan cuaca panas ekstrem. Kelompok lanjut usia dan penderita penyakit kronis menjadi yang paling rentan terdampak.

Para ahli menjelaskan, fenomena ini dipicu oleh sistem tekanan udara tinggi yang dikenal sebagai kubah panas (heat dome) atau omega block. Sistem tersebut memerangkap udara panas di suatu wilayah sehingga suhu terus meningkat selama beberapa hari bahkan berminggu-minggu.

Menurut para ilmuwan, perubahan iklim turut memperparah kondisi tersebut. Pemanasan global membuat gelombang panas terjadi lebih sering, berlangsung lebih lama, dan memiliki intensitas yang semakin tinggi dibandingkan beberapa dekade lalu.Lalu, apakah Indonesia berpotensi mengalami kondisi serupa?Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya menjelaskan Indonesia tidak mengalami heatwave seperti di Eropa karena berada di wilayah tropis dekat garis khatulistiwa.

Baca Juga:  Upaya OIKN untuk Mencapai Target Investasi Rp 100 Triliun pada 2024

Meski demikian, suhu udara pada musim kemarau tetap dapat terasa sangat terik akibat minimnya tutupan awan dan tingginya intensitas penyinaran matahari.BMKG mengimbau masyarakat tetap menjaga kesehatan saat cuaca panas dengan memperbanyak konsumsi air putih, mengurangi aktivitas berat di luar ruangan pada siang hari, serta menggunakan pelindung diri saat beraktivitas di bawah sinar matahari.

Fenomena gelombang panas yang melanda Eropa menjadi pengingat bahwa dampak perubahan iklim kini semakin nyata dirasakan di berbagai belahan dunia. Meski Indonesia tidak mengalami heatwave secara teknis, peningkatan suhu udara dan cuaca ekstrem tetap perlu diwaspadai sebagai bagian dari konsekuensi perubahan iklim global.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *