Indonesia Mulai Bangun Kapal Selam Scorpène Senilai 2.000 Ton
TEKNOLOGI – Indonesia resmi memasuki babak baru kemandirian pertahanan bawah laut. Menurut laporan Interesting Engineering, konstruksi dua unit kapal selam kelas Scorpène telah dimulai oleh galangan kapal milik negara PT PAL bekerja sama dengan perusahaan pertahanan asal Prancis, Naval Group.
Kapal selam kelas Scorpène dikenal sangat senyap dan mampu membawa berbagai jenis senjata, menjadikannya salah satu tolok ukur internasional untuk kapal selam konvensional yang bisa menjalankan operasi tempur melawan kapal permukaan maupun kapal selam lain, sekaligus mengumpulkan data intelijen.
Yang menarik, material yang dipakai bukan sembarang baja. Kapal selam Scorpène Indonesia nantinya menggunakan jenis baja yang sama dengan kapal serang Prancis, yang menuntut parameter pengelasan khusus dengan banyak tahap inspeksi dan standar penerimaan yang sangat ketat demi menghasilkan lasan tanpa cacat. Untuk memenuhi standar itu, dua puluh insinyur PT PAL menjalani pelatihan selama dua hingga tiga bulan di Cherbourg, Prancis, belajar teknik pengelasan, pemanasan awal, dan kontrol kualitas langsung dari para ahli terbaik di bidangnya.
Varian yang dibangun, Scorpène Evolved, membawa sejumlah inovasi baru termasuk sistem mesin baru, baterai lithium-ion, serta sistem tempur Subtics. Kolaborasi kedua negara pun berjalan cukup mendalam — tim Naval Group yang kini beranggotakan delapan ahli akan bertambah menjadi lima puluh orang, semuanya berperan sebagai operator referensi untuk transfer keterampilan dan dukungan teknis berkelanjutan, dengan pasangan kerja Prancis-Indonesia dibentuk khusus, bahkan tim Prancis pun ikut belajar Bahasa Indonesia.
Soal performa, dengan konfigurasi baterai lithium-ion penuh, kapal selam ini akan memiliki daya jelajah misi hingga 80 hari, dan mampu membawa kombinasi hingga 18 unit torpedo berat serta rudal SM39 Exocet. Naval Group bahkan memastikan Scorpène Evolved akan mampu menembakkan rudal Exocet generasi terbaru untuk kapal selam, SM40, yang saat ini sedang dikembangkan oleh MBDA, seperti dilaporkan Naval News.
Bagi Indonesia, proyek ini bukan sekadar pengadaan alutsista. Program ini dipandang sebagai batu loncatan menuju kemandirian kapal selam jangka panjang, dengan rencana nasional untuk mampu merancang, membangun, dan bahkan mengekspor kapal selam buatan sendiri pada dekade 2040-an. Bahkan, PT PAL dan Naval Group turut membahas kemungkinan menjadikan Indonesia sebagai pusat produksi dan perawatan regional bagi operator Scorpène lainnya di masa depan.
Satu detail lagi yang patut dicatat: pemilihan Scorpène Evolved oleh Indonesia menandai pesanan ekspor pertama untuk varian baterai lithium-ion dari keluarga Scorpène — status yang menempatkan Indonesia sebagai pembeli perdana teknologi tersebut di pasar global.
