Netwriter can get reward Join NowDaftar / Login Netwriter
August 5, 2026
TEKNOLOGI

Kimi K3 Kini Bisa Berjalan di CPU 8GB Tanpa GPU Mahal

  • August 4, 2026
  • 2 min read
Kimi K3 Kini Bisa Berjalan di CPU 8GB Tanpa GPU Mahal

TEKNOLOGI – Model kecerdasan buatan (AI) berukuran besar umumnya membutuhkan kartu grafis (GPU) dengan memori tinggi agar dapat dijalankan secara lokal. Namun, anggapan tersebut mulai berubah setelah muncul metode baru yang memungkinkan Kimi K3, salah satu model AI open-source terbaru, beroperasi hanya dengan RAM 8 GB pada CPU, tanpa bantuan GPU khusus. Informasi ini pertama kali diulas oleh Data Science in Your Pocket di Medium, yang menjelaskan bahwa pendekatan tersebut memanfaatkan teknik inferensi baru sehingga kebutuhan perangkat keras dapat ditekan secara signifikan.

Kimi K3 sendiri dikembangkan oleh perusahaan AI asal Tiongkok, Moonshot AI, sebagai model Mixture-of-Experts (MoE) yang memiliki ratusan miliar parameter, tetapi hanya sebagian kecil yang aktif setiap kali menerima permintaan. Karakteristik tersebut membuat model mampu mempertahankan performa tinggi sembari mengurangi beban komputasi dibandingkan model padat (dense model) dengan ukuran setara. Meski demikian, menjalankan model sebesar itu secara lokal sebelumnya tetap dianggap mustahil bagi komputer kelas konsumen.

Menurut laporan Data Science in Your Pocket, perubahan besar datang melalui implementasi proyek KTransformers yang memanfaatkan teknik kuantisasi serta mekanisme pemuatan parameter secara bertahap (streaming). Dengan pendekatan ini, sebagian besar data model disimpan di media penyimpanan, sementara hanya komponen yang sedang digunakan dimuat ke memori utama. Hasilnya, Kimi K3 dapat dijalankan pada komputer yang hanya memiliki RAM 8 GB dan prosesor biasa, meskipun kecepatan inferensinya tentu tidak secepat sistem berbasis GPU kelas atas.

Dalam artikelnya, penulis menjelaskan bahwa, “Anda tidak lagi membutuhkan GPU mahal untuk mencoba model AI berukuran sangat besar.” Pernyataan tersebut menggambarkan perubahan paradigma bahwa eksperimen AI kini semakin mudah diakses oleh pengembang independen, mahasiswa, maupun peneliti yang memiliki keterbatasan anggaran perangkat keras.

Walaupun demikian, metode ini bukan berarti membuat Kimi K3 bekerja dengan performa maksimal. Proses menghasilkan respons tetap membutuhkan waktu lebih lama karena CPU memiliki kemampuan pemrosesan paralel yang jauh lebih rendah dibanding GPU. Selain itu, penggunaan SSD berkecepatan tinggi menjadi faktor penting agar proses pemanggilan parameter tidak menimbulkan jeda yang terlalu besar selama inferensi berlangsung.

Terobosan ini dipandang sebagai langkah penting dalam upaya mendemokratisasi teknologi AI. Dengan kombinasi arsitektur Mixture-of-Experts, kuantisasi, dan teknik streaming parameter, pengembang kini memiliki alternatif untuk mengeksplorasi model AI berskala besar tanpa harus berinvestasi pada perangkat keras yang sangat mahal. Laporan Data Science in Your Pocket juga menilai pendekatan tersebut dapat memperluas akses terhadap riset AI lokal sekaligus mendorong lahirnya berbagai eksperimen baru di kalangan komunitas open-source.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *